BI 'Cetak Uang' Rp 500 T, Lembaga Moneter Sentral Lain Berapa?

 BI 'Cetak Uang' Rp 500 T, Lembaga Moneter Sentral Lain Berapa?
                

                                             

Jakarta, CNBC Indonesia – Pandemi penyakit virus corona (Covid –

) menjadi masalah krisis kesehatan dunia yang belum pernah terjadi pada generasi kontemporer.
Berdasarakan file Worldometer, hingga saat ini Covid – 19 sudah “menyerang” lebih dari 200 , menjangkiti lebih dari 4,4 juta orang, dan melampaui 300 ribu orang diterima dunia.

Tidak hanya krisis kesehatan, virus ini juga menyebabkan kemeresotan ekonomi dunia akibat negara mengambil kebijakan karantina wilayah ( lockdown ) dan jarak sosial guna meredam penyebarannya yang masif.

Lockdown dan jarak sosial membuat roda pertumbuhan melambat bahkan terhambat, akibatnya pertumbuhan ekonomi dunia merosot bahkan menuju resesi.

Dana Moneter Internasional (Dana Moneter Global / IMF) dalam laporan terbaru yang diberi judul Penguncian luar biasa yang dirilis pada pertengahan April lalu diprediksi keuangan dunia akan bertambah kontraksi alias minus 3% di tahun ini.

Negara maju seperti Amerika Serikat (AS), hingga negara meningkatnya pasar seperti Indonesia yang meningkatkan kemerosotan. Perkonomian AS diprediksi minus 5,9%, sementara ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh walau hanya 0,5% di tahun ini.

Guna menanggulangi dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh Covid – , lembaga moneter sentral di beberapa negara, termasuk lembaga moneter Indonesia (BI) mengambil kebijakan “membeli uang”.

Hingga saat ini, BI sudah “mencetak uang” lebih dari Rp 500 triliun untuk menambah likuiditas di pasar yang sedang mengetat hasil roda keuangan yang melambat.

Istilah “skor uang” di sini bukan benar-benar skor uang fisik (kertas dan logam) ditambahkan ke suplai uang ke ekonomi. Patut diingat, didukung suplai tersebut juga tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga dalam bentuk simpanan perbankan.

Sejak pandemi Covid – 29 menghantam keuangan Indonesia, BI sudah mengambil kebijakan yang termasuk ketegori “mencetak uang”. Hal tersebut dilakukan BI dengan menurunkan Giro Wajib Minimal (GWM) perbankan dua kali di tahun ini.

Mulai awal Mei, BI menurunkan GWM 200 Poin dasar (bps) untuk lembaga keuangan umum, dan 50 bps untuk lembaga moneter syariah. Dengan penurunan tersebut, BI mengatakan ada penambahan likuiditas sebesar Rp 117, 8 triliun.

Sebelumnya di awal tahun ini, BI juga sudah melonggarkan GWM yang menambah likuditas sebesar 53 triliun.

Selain itu, BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder menerima 166, 2 triliun. Kemudian memberikan fasilitas repo perbankan membutuhkan Rp 137, 1 trilun, dengan fasilitas tersebut lembaga keuangan atau perusahaan yang memiliki SBN bisa menggadaikannya di BI.

BI juga menyediakan fasilitas swap valas sebesar 29, 7 triliun. Dapat diterima di seluruh, BI sudah “mengumpulkan uang” peringkat Rp 503, 8 triliun.

Istilah “mencetak uang” ini mulai populer setelah krisis finansial 2008, saat itu The Fed dan beberapa lembaga moneter sentral yang menerapkan kebijakan pelonggaran kuantitatif ( pelonggaran kuantitatif / QE).

Sejak saat itu, lembaga moneter kompilasi melakukan QE maka lazim disebut “ mencetak uang “atau” skor uang “.

[Gambas:Video CNBC]

Lembaga moneter sentral Jepang (BoJ) menjadi lembaga moneter sentral pertama yang mengambil kebijakan “mencetak uang” pada generasi milenium. BoJ pertama kali dilakukan pada Maret 2001, untuk memberikan stimulus ke ekonomi, dan meningkatkan perekonomian. BoJ kala itu melakukan QE dengan membeli uang pemerintah, Sama dengan yang dilakukan BI dengan membeli SBN.

Pasca krisis dunia finansial 2008, The Fed, Swiss Lembaga Moneter Nasional (SNB), Lembaga Moneter Inggris (BoE), hingga Lembaga Moneter Eropa Tengah (ECB) juga melakukan hal yang sama guna memacu investasi masing-masing. Istilah “membeli uang” semakin populer.

                

                             
Belajar Ekstra

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *