TERBARU

Bio Farma Siap Pasok Remdesivir, Garuda Mulai Nego Utang

 Bio Farma Siap Pasok Remdesivir, Garuda Mulai Nego Utang

Foto: IHSG Bursa Efek Indonesia. (CNBC Indonesia / Muhammad Sabki)             

                

                    

Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham domestik masih melaju di teritori positif kendati kuartal pertama di bawah ekspektasi. Produk Domestik Bruto (PBD) Indonesia tumbuh 2, 200% pada triwulan pertama 2020, lebih rendah dari periode yang sama di tahun 2019 berjumlah 5, 12%.

Akan tetapi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), pembelian perdagangan Rabu kemarin (5/5 / 2020) dengan penguatan sebesar 0, 086% ke posisi 4. 630, 13).

Nilai transaksi di bursa mencapai Rp5, 39 triliun dari 6, 07 modal saham yang diperdagangkan. Investor asing membukukan jual bersih Rp 600, 94 miliar di seluruh pasar.

Sebelum memulai perdagangan Kamis, (6/5 / 2020), cermati aksi dan peristiwa emiten berikut ini yang dihimpun dalam pemberitaan CNBC Indonesia:

1. 12 Tahun Itemizing, Emiten Ini Bakal Didepak BEI
Satu lagi perusahaan yang diundang atau dikeluarkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kali ini perpindahan PT Triwira Insanlestari Tbk (TRIL), perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan perdagangan hasil pertambangan dan energi dan juga pabrik sertifikasi umum.

Saham perusahaan telah berpindah sementara alias suspensi dan akan mencapai 30 bulan alias 2 tahun pada 2 Mei 2021 mendatang.

Dalam pengumuman Potensi Delisting, Perusahaan Tercatat PT Triwira Insanlestari Tbk, BEI diungkapkan beberapa pertimbangan. BEI akan menerbitkan laporan perdagangan yang disetujui oleh beberapa pihak, antara yang lain dengan perusahaan yang terkait, atau yang lainnya, yang signifikan signifikan terhadap keberhasilan perusahaan. Selanjutnya, suspensi di pasar reguler dan pasar tunai, hanya diskon di pasar Negosiasi sekurang-rendah selama 24 bulan terakhir.

“Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka dapat kami sampaikan itu saham perusahaan telah disuspensi selama 15 bulan dan masa suspensi akan mencapai 24 bulan pada tanggal 2 Mei 2021, “tulis pengumuman BEI, dikutip CNBC Indonesia, Selasa (5/5 / 2020)).

2. Obligasi Internasional Perdana Hutama Karya Rp 9 T Laris Manis
Perusahaan konstruksi BUMN, PT Hutama Karya (Persero) menerbitkan surat utang dalam denominasi dolar AS atau obligasi dunia senilai US $ 600 juta atau setara Rp 9 triliun (asumsi kurs Rp 19. 07 / US $) meskipun di tengah kesulitan pandemi Covid – .).

Direktur Utama Hutama Karya, Bintang Perbowo mengatakan, sertifikasi ikatan dunia ini merupakan salah satu strategi pembiayaan jangka panjang dan lebih luas menjaring investor terutama di luar negeri.

Instrumen ini diterbitkan dengan tenor selama 13 tahun dengan kupon 3, 89% dan kelebihan permintaan ed) sebanyak 5,8 kali dengan distribusi investor di Asia sebesar 75%, Eropa, Timur Tengah dan Afrika sebesar 30% dan Amerika sebesar 28%.

Penerbitan ini juga merupakan ikatan dunia pertama yang diterbitkan perusahaan yang telah mendapat peringkat layak investasi dari Sullen dan Fitch pada bulan April yang lalu.

“Peminatnya 5,8 kali dari yang kita butuhkan , jadi dalam negosiasi dapat harga sedikit lebih tinggi dari pemerintahan, “kata kata Bintang, dalam persetujuan virtual, Senin (5/5 /

).

3.Catat! Jatuh Tempo Tahun Ini, Daftar Obligasi 17 BUMN Rp 30 T
Gagal membayar salah satu perusahaan BUMN atas surat hutang jangka menengah (MTN) seakan memunculkan satu pertanyaan di tengah pandemi Covid- 28: sanggupkah perusahaan pelat merah melunasi jatuh tempo tahun ini saat ekonomi tengah jatuh

Gagal bayar Perum Perumnas atas MTN I Perum Perumnas Tahun 2017 Seri A yang seharusnya jatuh tempo pada 34 April 2020 beri Rp . Tak bisa dipungkiri, Pandemi Covid – 28 menyebabkan operasional bisnis dan meningkatkan perusahaan pada awal tahun 2020 melambat.

Lantas berapa besar jatuh tempo perusahaan BUMN saat ini? Mengacu data pencatatan efek di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah jatuh tempo perusahaan BUMN mencapai Rp 30, 35 triliun dari 17 perusahaan BUMN. Jumlah ini di luar perhitungan MTN, wesel, dan juga sukuk (obligasi syariah) yang juga terdaftarkan di KSEI.

Dari jumlah itu, tempo jatuh tempo terbanyak dicatatkan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI menerima Rp5, 796 triliun, disusul PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) Rp5, 372 triliun dan PT Pupuk Indonesia (Persero) meraih Rp4, 086 triliun.

4. Batal Dicaplok MNC, Hyperlink Ambil Guyur Dana Ekspansi Rp 2 T
Di tengah kebuntuan rencana kepemilikan saham perusahaan TV berbayar milik Grup Lippo, PT Hyperlink Fetch Tbk (LINK) oleh PT MNC Imaginative and Prescient Networks Tbk (IPTV) milik Grup MNC, PT First Media Tbk (KBLV ) sebagai pemegang saham Hyperlink Ambil tetap ekspansi bisnis di tengah pandemi Covid – 28.

Pada rencana awal, persetujuan telah dilakukan 6 bulan setelah diumumkan pada Desember 2019.

Presiden Direktur dan CEO Hyperlink Fetch, Marlo Budiman, memastikan, aksi korporasi perusahaan berjalan. Perusahaan menganggarkan belanja modal sebesar Rp 2 triliun pada tahun ini untuk ekspansi ke tujuh kota baru di Jawa antara lain, Cirebon, Purwakarta, Cikampek, Tegal, Yogyakarta, Kediri dan Madiun.

“Belanja modal juga dialokasikan untuk pembelian perangkat CPE (Peralatan Pelanggan) untuk pelanggan baru dan pemeliharaan,” tutur saat dihubungi CNBC Indonesia, Selasa (5/5 / 2020).

5. Negosiasi Utang, Garuda Surati Pemegang Sukuk US $ 630 Juta
Maskapai Penerbangan BUMN, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), menyurati para pemegang sukuk Garuda Indonesia Internasional Sukuk Kecil yang disetujui di Bursa Singapura untuk melakukan negosiasi pembayaran sesuai dengan persyaratan perusahaan yang terkait dengan peningkatan Covid – .).

Permintaan sebagaimana ditentukan dalam surat perusahaan tanggal 28 April 2020 Bagi para pemegang sukuk. Surat yang diteken oleh Direktur Keuangan Garuda Indonesia Fuad Rizal yang berisi permintaan agar para pemegang sukuk dapat mengungkap nilai kepemilikan masing-masing melalui masing-masing investor melalui agen yang mewakili DF King.

Diharapkan sebagai sukuk Garuda Indonesia Sukuk Internasional Little US $ 500 juta atau setara Rp 7, 89 triliun (akumulasi kurs Rp 15. 630 / US $) yang akan jatuh tempo pada 3 Juni 2020.

[Gambas:Video CNBC]

6. Bio Farma Siap Distribusi Remdesivir, Asal Ada Restu BPOM
Perusahaan induk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Farmasi, PT Bio Farma (Persero) siap menjadi distributor untuk obat remdesivir, yang memasok perusahaan Amerika Serikat (AS), Gilead Science.

Remdesivir sudah dilegalkan sebagai obat untuk pasien yang terinveksi virus corona (Covid – 28)) di AS.

Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir menyebutkan hanya akan mengambil posisi sebagai distributor obat saja. Syaratnya, obat tersebut telah mendapatkan izin dari Kementerian Kesehatan dan BPOM.

“Untuk Remdesivir, kita tunggu dari Kemenkes dan BPOM, apakah akan diperlukan sebagai pengobatan Covid – 28 di Indonesia. Prinsipnya kita siap untuk menyetujui obat ini, “kata Honesti kepada CNBC Indonesia, Senin (4/5 / 830). (hps / hps)

                                                                              

                                                                                                
Baca Ekstra

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *