Hawa Rupiah Bisa ke Bawah Rp 14.000/US$ Kian Terasa…

 Hawa Rupiah Bisa ke Bawah Rp 14.000/US$ Kian Terasa…


Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah melemah tipis 0,07% ke Rp 14.060/US$ pada perdagangan Kamis kemarin (4/6/2020), menghentikan laju impresif dalam 2 hari sebelumnya.

Pada hari Rabu rupiah melesat tajam 2,29%, sehari sebelumnya sebesar 1,34%. Sementara pada periode April-Mei Mata Uang Garuda juga tercatat menguat tercatat melesat lebih dari 10%.

Melihat kinerja tersebut, dan posisinya di dekat level “keramat” atau level psikologis Rp 14.000/US$, rupiah akhirnya diterpa aksi ambil untung (profit taking) yang membuat nilainya melemah kemarin.





Mood investor global yang membaik merespon new normal di berbagai belahan dunia membuat capital inflow besar ke dalam negeri yang membuat rupiah perkasa.
Selain itu, penguatan rupiah juga tidak lepas dari “restu” Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter yang mengatur stabilitas nilai tukar.

Gubernur BI, Perry Warjiyo saat memberikan paparan Perkembangan Ekonomi Terkini pekan lalu mengatakan nilai tukar rupiah saat ini masih undervalue, dan ke depannya akan kembali menguat ke nilai fundamentalnya, kembali ke level sebelum pademi penyakit virus corona (Covid-19) terjadi di kisaran Rp 13.600-13.800/US$.

“Ke depan nilai tukar rupiah akan menguat ke fundamentalnya. Fundamental diukur dari inflasi yang rendah, current account deficit (CAD) yang lebih rendah, itu akan menopang penguatan rupiah. Aliran modal asing yang masuk ke SBN (Surat Berharga Negara) juga memperkuat nilai tukar rupiah” kata Perry, Kamis (28/5/2020).

Kami yakni nilai tukar rupiah masih undervalue, dan berpeluang terus menguat ke arah fundamentalnya” tegas Perry.

Pernyataan Perry tersebut berbeda dengan sebelumnya yang mengatakan rupiah akan berada di kisaran Rp 15.000/US$ di akhir tahun. Rupiah kini disebut akan menguat ke nilai fundamentalnya, sehingga memberikan dampak psikologis ke pasar jika Mata Uang Garuda masih berpeluang menguat lebih jauh.

Rupiah pun melaju kencang sejak saat itu.

Gubernur Perry hari ini kembali akan memberikan briefing Perkembangan Ekonomi Terkini, dan bisa jadi akan membawa rupiah melewati Rp 14.000/US$.

Secara teknikal, penguatan tajam rupiah pada hari Selasa membentuk pola Black Marubozu dilihat dari grafik candle stick harian.

Rupiah membuka perdagangan Selasa di level Rp 14.480/US$ sekaligus menjadi level tertinggi hari ini, dan menutup perdagangan di level Rp 14.380/US$ sekaligus menjadi level terendah intraday. Sehingga secara teknikal rupiah disebut membentuk pola Black Marubozu.

Munculnya Black Marubozu kerap dijadikan sinyal kuat jika harga suatu instrumen akan mengalami penurun lebih lanjut. Dalam hal ini, nilai tukar dolar AS melemah melawan rupiah. Dengan kata lain, rupiah berpotensi melanjutkan penguatan. Terbukti, rupiah langsung melesat Kamis kemarin.

Level psikologis Rp 14.000/US$ masih menjadi target penguatan rupiah selanjutnya. Jika mampu dilewati maka Mata Uang Garuda akan menuju Rp 13.890/US$ pada hari ini.

Untuk jangka yang lebih panjang, target penguatan rupiah ke Rp 13.565/US$ yang merupakan Fibonnaci Retracement 100%.

Fibonnaci Retracement tersebut ditarik dari level bawah 24 Januari (Rp 13.565/US$) lalu, hingga ke posisi tertinggi intraday 23 Maret (Rp 16.620/US$).


Grafik: Rupiah (USD/IDR) Harian 
Foto: Refinitiv

Sementara itu, melihat indikator stochastic pada grafik harian masih berada di level jenuh jual (oversold) dalam waktu yang cukup lama, rupiah memang sangat rentan mengalami koreksi alias melemah.

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah oversold (di bawah 20), maka suatu harga suatu instrumen berpeluang berbalik naik. Dalam hal ini, USD/IDR berpeluang naik, yang artinya dolar AS berpeluang menguat setelah stochastic mencapai oversold.

Stochastic yang oversold dalam waktu lama dapat memicu aksi ambil untung (profit taking) yang membuat rupiah melemah. Resisten (tahanan atas) terdekat jika rupiah melemah berada di level US$ 14.250/US$.

Peluang rupiah ke Rp 13.565/US$ yang merupakan level terkuat dalam 2 tahun terakhir melawan dolar AS, masih tetap terjaga selama rupiah berada di bawah Rp 14.730/US$ (Fib. Retracement 61.8%).

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]


(pap/pap)




Source link

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *